Pupuk Organik Harus Jadi Ikon Petani dan Peternak

Lemahnya posisi tawar petani maupun para peternak lebih disebabkan kurang kreatifnya mereka dalam memanfaatkan potensi lokal yang ada. Termasuk limbah pertanian maupun kotoran hewan. Hal ini pula yang menyebabkan harga jual produk pertanian menjadi rendah dan pupuk sering sulit diperoleh.

“Tingginya harga cabai saat ini juga disebabkan karena kita terlalu tergantung pada pupuk kimia. Karena itu sudah saatnya para petani dan peternak kaya dengan memanfaatkan pupuk organik,” kata Ir. Didik Saidi, ahli agroteknologi dari UPN Veteran Yogyakarta saat berbicara pada Bimbingan Teknis “Pemanfaatan Limbah Pertanian untuk Pembuatan Pupuk Organik” di Rumah Makan Andrawina Bantul pada 13 Februari 2017.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 60 petani dari berbagai kelompok tani di Kabupaten Bantul. Dalam penyuluhan yang diselenggarakan dalam rangka kunjungan daerah pemilihan (kundapil) itu hadir juga anggota DPR RI H. Ambar Tjahyono SE MM.

pupuk organik
Saat Bimtek Pupuk Organik di Bantul

“Saya berharap dengan kegiatan ini para petani dapat lebih memanfaatkan potensi lokal yang ada, sehingga memberikan manfaat untuk lingkungan maupun dalam meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri,” kata anggota dewan dari daerah pemilihan DIY ini.

Pada kundapil kali ini Ambar juga mengunjungi sejumlah kelompok usaha bersama (KUB) yang ada di Bantul. Diantaranya mengunjungi KUB Giri Makmur, KUB Joyo Mino yang bergerak dalam pemeliharaan ikan, serta KUB Sedyo Subur yang bergerak dalam pemeliharaan ternak sapi.

Dampak Ketergantungan pada Pupuk Kimia

Menurut Didi, penggunaan pupuk kimia saat ini sudah sangat tinggi. Hal ini menyebabkan banyak musibah timbul di berbagai tempat, seperti panen tidak optimal, gagal panen, banjir, hingga timbulnya berbagai penyakit tanaman baru yang sebelumnya tidak pernah terjadi. “Yang lebih parah, terlalu tergantungnya petani pada pupuk kimia menyebabkan mereka mudah dipermainan pabrik. Ini juga yang menyebabkan pupuk menjadi langka,” tandasnya.

Untuk itu dosen Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta ini memberikan solusi agar petani lebih kreatif dengan memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini dibuang untuk dijadikan pupuk organik. Selain bahan bakunya berlimpah dan hanya dibuang yang bisa menyebabkan polusi lingkungan, proses pembuatan pupuk organik sebenarnya sangat mudah.

penyuluhan pupuk organik

Kendala bau dan jijik yang sering dialami petani, menurut Didi, bisa diatasi dengan menambahkan bahan alami lainnya. Selain digunakan untuk lahan pertaniannya sendiri, sisa pupuk yang ada juga bisa dijual. “Saya punya banyak binaan petani yang mampu memperoleh penghasilan hingga Rp 25 juta per bulan hanya dengan mengolah pupuk organik,” ucapnya.

Selain meningkatkan penghasilan, banyak manfaat lain pupuk organik untuk pertanian, seperti meningkatkan hasil panen, menyuburkan lahan bekas panen, dan penyerapan air di dalam tanah sehingga mencegah banjir.

Add Comment